Katib Aam PBNU Sebut Konflik Prancis Bentuk Supremasi Sekularisme

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf. (Foto: Istimewa)

NUKITA.ID, MALANG – Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyebut apa yang terjadi di Prancis baru-baru ini merupakan bentuk dari gejala supremasi sekularisme.

Pasalnya, ia melihat Presiden Emmanuel Macron membela pembuatan kartun Nabi Muhammad SAW oleh majalah Charlie Hebdo. Padahal menurutnya, tindakan Charlie Hebdo tersebut telah melakukan penghinaan. 

Hal tersebut ia sampaikan saat galawicara Peci dan Kopi bertema “Islam and Blasphemy,” yang digelar 164 Channel pada Selasa (3/11).

Supremasi sekularisme ini muncul setelah hadir supremasi agama di masa-masa sebelumnya. Hal-hal yang berkaitan dengan agama menjadi tersudutkan di masa ini, sedangkan kebebasan lain yang sebetulnya terbatasi dalam wilayah agama dibela.

Gus Yahya, sapaan akrabnya, mencontohkan jika ada orang yang menghina agama itu seolah tidak menjadi masalah, tetapi jika ada orang yang menghina LGBT itu bisa mendapatkan sanksi yang cukup berat. Sanksi hukumnya mungkin tidak ada, tetapi sanksi sosialnya, menurutnya, bisa berat karena ada persekusi atau pemecatan dari profesinya. 

“Kenapa tindakan majalah Charlie Hebdo mendapatkan pembelaan dari pemerintah Perancis tapi juga dari mungkin publik Prancis pada umumnya atau mayoritas publik Prancis karena memang Prancis itu punya sejarah perlawanan terhadap agama lain. Itu kan muncul karena perlawanan terhadap supremasi agama,” katanya.

Fenomena di Prancis, penghinaan umat terhadap umat beragama, tidak hanya pada Islam, tapi kepada Yahudi dan Nasrani. Karenanya, fenomena yang terjadi bukan wacana Islam lawan Kristen, tapi soal sekularisme ekstrem yang cenderung menganggap agama sebagai lawannya, atau pihak yang harus ditekan karena dianggap berbahaya, tahayul, dan sebagainya.

Comments